A. Kaderisasi & Kepemudaan
Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan di Yayasan Bina Insani Madinah Cluster Catalina - BIMC sangat berkaitan dengan ajaran Islam untuk selalu belajar dari buaian sampai liang lahat.
اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ
Artinya : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”
Banyak ayat Al-Qur’an yang mengarah agar umatnya mau menuntut ilmu, seperti yang terdapat dalam Qs Al Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ
Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Sifat-sifat keilmuan tersebut bisa dipelajari dari suri teladan Nabi Muhammad SAW
Dalam Alquran juga menekan agar dalam menyontoh Rasulullah juga ikut mempersiapkan calon-calon kader terbaik ummat. Firman Allah dalam Al-Qur’an.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran : 110)
Dalam kaderisasi dan kepemudaan BIM-C pasti memberikan pengarahan dan pelatihan. Pengarahan berupa memberikan ilmu dan sharing informasi baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan pelatihan diberikan secara kontinyu mulai dari praktek dasar, menengah hingga lanjutan, sesuai dengan tingkat-tingkat pelatihan.
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff : 2-3)
Keutamaan lainnya dengan proses kaderisasi dan kepemudaan inilah adalah proses dalam mencari ilmu, karena keutamaan ilmu sangat penting dalam Islam.
Dalam Alquran Allah memberi tekanan pentingnya ilmu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk barisan kaderisasi yang kuat.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”
(Q.S. Ash-Shaff : 4)
Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap. (Al-Insyirah; 7-8)
Disinilah dibutuhkan ilmu manajemen organisasi, hal ini penting untuk menjaga agar kaderisasi tetap berlangsung. Jika manajemen organisasinya lumpuh maka hampir dapat dipastikan kaderisasinya juga akan lumpuh, kaderisasi lumpuh maka sistem remaja dan kepemudaan juga akan lumpuh.
Disinilah kita perlu untuk menjalankan Islam secara Kaffah agar Islam dapat kembali berkibar di seantero dunia, seperti zaman para khulafaur Rasyidin, khalifah ke khalifah berikutnya.
Allah berfirman; (يأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين)
Artinya; Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan, karena setan itu musuhmu yang nyata. (Al-Baqarah; 208)
B. Sub Kaderisasi: Seksi Kaderisasi dan Kajian
1. Kaderisasi
Kaderisasi adalah proses yang dilakukan secara terus menerus terencana dengan sistem pelatihan baik formal dan informal untuk menghasilkan kader-kader Qurani, yang siap mengamalkan Alquran dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari.
”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang bersabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan, ”Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Ayat ini memiliki 3 iktibar:
1 . Bahwa Nabi didampingi oleh kader – kader mujahid yang banyak
2 . Kader tersebut memiliki kualitas yang kokoh.
3 . Menyadari atas kelemahan-kelemahan yang dilakukan sendiri dan segera memperbaikinya segera.
Dalam konteks kaderisasi, ayat ini mengisyaratkan 3 sasaran kaderisasi:
A . Pertambahan jumlah
B . Peningkatan kualitas
C . Profesionalitas Kompetensi
2. Kajian
Kajian dalam Islam sangat penting, untuk itu Nasruddin Razak mengajukan empat cara https://ruruls4y.wordpress.com/2012/03/11/kajian-studi-islam/ :
Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan Al-Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami Islam, karena orang hanya megenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Alquran dan Al-Sunnah, atau melalui pengenalan dari sumber – sumber kitab fiqih dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme, hidup penuh bid’ah dan khurafat, yakni telah tercampur dengan hal-hal yang tidak Islami, dari ajaran Islam yang murni.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara. sebagian saja. Memahami Islam secara parsial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
Ketiga, Islam perlu dipelajar dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar.
Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran, baru kemudia dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Dengan cara demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian atau kesenjangan antara Islam yang berada pada dataran normatif teologis yang ada dalam Alquran dengan Islam yang ada pada dataran historis, sosiologis, dan empiris
Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan Al-Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami Islam, karena orang hanya megenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Alquran dan Al-Sunnah, atau melalui pengenalan dari sumber – sumber kitab fiqih dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme, hidup penuh bid’ah dan khurafat, yakni telah tercampur dengan hal-hal yang tidak Islami, dari ajaran Islam yang murni.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara. sebagian saja. Memahami Islam secara parsial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
Ketiga, Islam perlu dipelajar dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar.
Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran, baru kemudia dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Dengan cara demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian atau kesenjangan antara Islam yang berada pada dataran normatif teologis yang ada dalam Alquran dengan Islam yang ada pada dataran historis, sosiologis, dan empiris
C. Kepemudaan : Pembinaan Prestasi
Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 148
وَلِكُلٍّوِجْهَةٌهُوَمُوَلِّيهَافَاسْتَبِقُواْالْخَيْرَاتِأَيْنَمَاتَكُونُواْيَأْتِبِكُمُاللّهُجَمِيعاًإِنَّاللّهَعَلَىكُلِّشَيْءٍقَدِيرٌ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kalian (berbuat) yang terbaik. Di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkanmu semua (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Di dalam al-Qur’an, Allah Swt menegaskan bahwa Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar Ra'd ayat 11).
Ayat ini dapat dipahami bahwa perubahan pada skala sosial hanya dapat terjadi jika setiap individu yang merupakan bagian dari anggota masyarakat mengubah apa yang ada dalam dirinya, yaitu potensi dasar yang dimiliki setiap manusia; jasmani, otak, dan kalbu. Ketiga potensi itu merupakan sumber munculnya nilai-nilai dasar yang menyebabkan seseorang menjadi besar dan unggul, yaitu 1) kemampuan berpikir yang luar biasa, 2) mentalitas yang baik, 3) karakter yang seimbang, dan 4) kondisi fisik yang mendukung. Tiga yang disebut pertama (berpikir, mentalitas, dan karakter) bersandar pada otak dan kalbu, yang dua diantaranya (mentalitas dan karakter) merupakan nilai spiritual yang khusus bersandar pada kalbu.
Allah SWT telah mengkaruniakan pada kita semua akal yang luar biasa. Bukankah Allah SWT ciptakan hidup dan mati untuk menguji sejauh mana kualitas amal kita (Surah Al Mulk : 2)
Bahkan dalam QS. At-Tin ayat 4 Allah berfirman bahwa kita, manusia, diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kita adalah makhluk terbaik! Berarti kita lebih baik dari malaikat, jin dan syaitan. Betapa berdosanya kita bila kita menyia-nyiakan segala potensi yang telah diberikanNya dan menyerah begitu saja oleh kemalasan.
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyiratkan bahwa kita harus menjadi pribadi yang berprestasi, pribadi yang berusaha untuk terus mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat. Bahkan Allah menyebut kita sebagai umat yang terbaik sepanjang jaman, seperti firman Allah SWT surah Ali Imran, ayat 110;
كُنْتُمْخَيْرَأُمَّةٍأُخْرِجَتْلِلنَّاسِتَأْمُرُونَبِالْمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَعَنِالْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُونَبِاللَّهِوَلَوْآمَنَأَهْلُالْكِتَابِلَكَانَخَيْرًالَهُمْمِنْهُمُالْمُؤْمِنُونَوَأَكْثَرُهُمُالْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Untuk Menjadi Remaja dan Pemuda Berprestasi maka Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan YBIMC harus:
1. Miliki Cita-cita
Setiap manusia pasti memiliki cita-citanya masing, karena cita-cita adalah hal yang fitrah bagi manusia. Cita-cita itu suci, penuh harapan dan memiliki energi yang besar. Dia mampu membuat seseorang mengeluarkan kualitas terbaiknya dan meraih prestasi.
Namun meskipun tiap manusia memiliki cita-cita, ada satu hal yang membedakan antara tiap manusia, yaitu seberapa besar usahanya dalam menggapai cita-cita dan prestasi tersebut. Ada yang hanya sekedar angan-angan, ada juga yang menggebu untuk mendapatkannya.
Berbicara tentang cita-cita memang tak lepas dari prestasi. Karena prestasi adalah buah keberhasilan dari usaha kita menggapai mimpi dan cita-cita. Prestasi sebenarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri seorang muslim, dari diri kita. Karena dalam Islam pun kita diperintahkan untuk selalu melaksanakan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin.
Yang perlu diperhatikan adalah, prestasi yang sejati merupakan buah dari usaha yang istiqomah. Dia tidak muncul dengan dipaksakan, tetapi melalui proses yang ikhlas dan bertahap. Dia tidak muncul dari hati yang oportunis, tapi dari hati yang memiliki tujuan mulia.
2. Karakteristik Manusia Berprestasi
Taufiqurrahman, seorang master dari Omdurman University, Sudan, ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi seseorang sehingga ia dapat disebut sebagai pribadi yang berprestasi, yaitu;
- Aqidah yang lurus
Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada ALLAH SWT, dan tidak akan menyimpang dari jalan serta ketentuan-ketentuanNya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada ALLAH berfirman dalam Al Qur’an,surah Al-An’aam :162
قُلۡاِنَّصَلَاتِىۡوَنُسُكِىۡوَمَحۡيَاىَوَمَمَاتِىۡلِلّٰهِرَبِّالۡعٰلَمِيۡنَۙ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”.
Karena aqidah yang lurus merupakan dasar ajaran tauhid, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman, dan tauhid.
- Ibadah yang benar
Selain akidah yang lurus, ibadah yang benar merupakan salah satu pilar utama manusia berprestasi. Manusia yang ingin meraih kesuksesan yang hakiki, harus memiliki pemahaman tentang konsep akidah sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh agamanya.
Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh melenceng dari tata cara yang telah diajarkannya.
Dengan kata lain, amalan ibadah yang kita lakukan tidak akan diterima Allah SWT jika tidak ada contohnya dari Baginda Nabi Muhammad SAW.
- Akhlak yang Mulia
Akhlak yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap manusia, baik dalam hubungannya kepada Allah, tuhannya maupun dengan makhluk-makhluk ciptaanNya.
Karena akhlak yang mulia begitu penting bagi umat manusia, maka salah satu tugas diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, dimana beliau sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya dalam surah Al-Qalam:4
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”
Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
- Wawasan yang Luas
Wawasan yang luas wajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah satu sifat Rasulullah SAW adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 219.
يَسْأَلُونَكَعَنِالْخَمْرِوَالْمَيْسِرِۖقُلْفِيهِمَاإِثْمٌكَبِيرٌوَمَنَافِعُلِلنَّاسِوَإِثْمُهُمَاأَكْبَرُمِنْنَفْعِهِمَاۗوَيَسْأَلُونَكَمَاذَايُنْفِقُونَقُلِالْعَفْوَۗكَذَٰلِكَيُبَيِّنُاللَّهُلَكُمُالْآيَاتِلَعَلَّكُمْتَتَفَكَّرُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”,
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Untuk mencapai wawasan yg luas maka manusia dituntut untuk mencari/menuntut ilmu agar tidak tersesat dalam pengamalannya.
- Fisik yang kuat
Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Bahkan Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya kekuatan jasmani seorang muslim.
Bahkan kita bisa baca dalam sirah Nabawi, Rasulullah SAW memimpin perang-perang besar pada usia diatas 50 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa fisik Beliau sangat kuat, meskipun dalam usia senja.
- Melawan Hawa Nafsu
Hal ini penting bagi seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam.
- Disiplin Waktu
Displin menggunakan waktu merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
- Professional
Professional artinya suatu pekerjaan dilakukan dengan maksimal, sesuai prosedur yang benar dan ditangani oleh ahlinya.
Teratur dalam suatu urusan termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara professional dan tepat waktu.
Apapun yang dikerjakan, profesionalisme harus selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian secara serius dalam penyelesaian tugas-tugas.
- Mandiri
Mandiri merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Karenanya pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik.
Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT.
- Bermanfaat bagi orang lain
Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Untuk meraih kriteria Pribadi Muslim yang berprestasi di atas membutuhkan mujahadah dan mulazamah atau kesungguhan dan kesinambungan. Allah swt berjanji akan memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya.
D. Susunan Pengurus Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan
Ketua : Edward
Sub Bidang Kaderisasi dan Kajian
1. Syakur Usman
2. Jimuha
Sub Bidang Pembinaan Prestasi
1. Sanretman
2. Agus Muryono
3. Susi
4. Meri
E. Program Kerja 2018
Hasil Rapat Kerja Yayasan Bina Insan Madinah di Ruko WTC Tangsel, tanggal 18 Februari 2018, maka Bidang Kaderisasi dan Kepemudaan merumuskan Program Kerja selama 2018 ini sebagai berikut:
No
|
Program Kerja
|
Sasaran Program
|
Target,Pelaksanaan, Biaya dan Bidang/Seksi Lain yang terkait
|
1
|
Kegiaan Ramadhan 1439 H
Sub Bidang: Kaderisasi dan Kajian
|
Remaja dan Pemuda Tgs. Catalina
|
Target: Remaja dapat mengisi kegiatan selama bulan Ramadhan dalam bentuk Pesantren Kilat, Lomba Design Grafis, Lomba Adzan, Lomba Surat-Surat Pendek, dll
Pelaksanaan: 17 Mei – 3 Juni 2018
Biaya : Rp 10.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
2
|
Remaja & Pemuda Berkiprah
Sub Bidang : Pembinaan Prestasi
|
Remaja dan Pemuda TGS Catalina
|
Target: Remaja dapat dekat dengan Masjid, seperti Diskusi, dokumentasi, perpustakaan, Olahraga, Seni, latihan berpidato, latihan Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi, dll
Pelaksanaan: April - Desember 2018
Biaya : Rp 10.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
3
|
Peningkatan Prestasi
Sub Bidang : Pembinaan Prestasi
|
Remaja dan Pemuda TGS Catalina
|
Target: Remaja dapat mengikuti lomba-lomba baik yang dilaksanakan di lingkungan Catalina maupun di luar
Pelaksanaan: April - Desember 2018
Biaya : Rp 10.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
4
|
Mabit
Sub Bidang: Kaderisasi dan Kajian
|
Remaja dan Pemuda TGS Catalina dan di luar Tgs Catalina
|
Target: Remaja dan Pemuda dapat menghayati nilai-nilai Iman, Ilmu dan amal.
Pelaksanaan:September 2018
Biaya : Rp 10.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
5.
|
Kewirusahaan
Sub Bidang: Kaderisasi dan Kajian
|
Remaja dan Pemuda TGS Catalina
|
Target: Remaja dan Pemuda dapat belajar model-model wirausaha dan penerapan dalam kehidupan sehari
Pelaksanaan: Juli 2018
Biaya : Rp 2.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
6
|
Rihlah (Wisata Alam)
|
Remaja dan Pemuda TGS Catalina
|
Target: Remaja dan Pemuda dapat belajar nilai-nilai qurani dalam alam semesta
Pelaksanaan: Nopember 2018
Biaya : Rp 40.000.000,-
Bidang/Seksi Terkait : Bidang DKM, Diklat dan Markom
|
Komentar
Posting Komentar